Judul : Mengenal Bid’ah Lebih Dekat
Kode Buku : MBLD
Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal
Ukuran : 11,5 x 17 cm
Halaman : 110 halaman
Harga : Rp 18.000,00

 “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3).

“…dikit-dikit bid’ah…. dikit-dikit bid’ah…”

“…apa-apa bid’ah… apa-apa bid’ah…”

Terkadang kita mendengar kalimat tersebut ataupun yang semisalnya dilontarkan kepada kita ataupun kepada dai dan aktivis dakwah yang menyeru kepada sunnah. Tidak jarang yang melontarkan adalah tokoh agama atau tokoh masyarakat yang disegani di lingkungan kita. Kata “bid’ah” diidentikkan kepada orang yang seram, menakutkan dan dianggap memecah belah umat. Namun bagaimana hakikat sebenarnya?

Para pelaku bid’ah dan pembelanya melontarkan berbagai pembelaan untuk membela bid’ah. Diantaranya adalah dengan mengatakan Umar bin Khaththab pun dikatakan melakukan bid’ah, yaitu dengan melakukan shalat tarawih berjamaah. Dikatakan pula bahwa Para sahabat pernah melakukan bid’ah dengan mengumpulkan Al Qur’an, Yang penting kan niatnya !, ini kan sudah tradisi di tempat kami, baca Qur’an kok dilarang?!.

Kalau semua yang baru itu disebut bid’ah, berarti mobil, pesawat, telepon, HP itu bid’ah juga dong? Pake unta saja sana….

Kalimat-kalimat tersebut hanyalah sebagian dari berbagai pembelaan terhadap bid’ah yang dilakukan sebagian kaum muslimin.

Namun, sebenarnya apakah hakikat bid’ah itu, apakah ada dalil yang melarangnya, apa saja pembelaan pelaku bid’ah dan bagaimana meluruskannya, apakah dampak buruk bid’ah bagi agama Islam? Temukan jawabannya dalam buku ini, sebuah buku ringkas yang membahas seputar bid’ah dengan pembahasan yang mudah dan sederhana sehingga memudahkan kita untuk memahaminya. Semoga bermanfaat…

zp8497586rq

Judul : Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris
Kode Buku : MANBT
Ukuran : 12 x 16 cm
Jumlah halaman : 128 Halaman
Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal
Harga : Rp 20.000,00

Sebenarnya, Islam sama sekali tidak menyetujui dan tidak mengajarkan terorisme, bahkan terorisme bukan monopoli Islam. Ada Kristen, ada Budah, ada Hindu, ada Yahudi, yang melakukan pemboman sejak puluhan tahun silam. Sedangkan Islam sendiri sudah jauh hari melarang berbagai bentuk teror dan menakut-nakuti orang.

Perlu dipahami bahwa orang yang bercadar, bercelana cingkrang dan berjenggot, tidak identik dengan teroris. Karena yang menjalankan ajaran tersebut hanya mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau pun keadaannya seperti itu. Jika tahu demikian, berarti ajaran tersebut tak boleh dicela dan dicemooh. Kata-kata celaan dan cemoohan pada ajaran tadi bahkan bisa mengantarkan pada kekafiran.

Namun bukan berarti dengan adanya cemoohan, jadi patah semangat untuk menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang sudah menjadi sunnatullah, orang yang berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat cobaan dan cibiran, sehingga butuh kesabaran. Orang yang berpeang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang sungguh berat cobaannya, bagai orang yang menggenggam bara api.

Bagus sekali jika anda memiliki buku ini, untuk memahami pemahaman yang keliru mengenai cadar, jenggot dan celana di atas mata kaki, disertai dengan motivasi untuk terus istiqamah dalam menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.